Putaran Peradaban Dunia, Indonesia dan Islam (1)

Oleh: H. J. Faisal*

Putaran Peradaban

Ungkapan bahwa sejarah bukan ditulis oleh pahlawan, tetapi sejarah akan ditulis oleh pemenang, sepertinya memang benar adanya. Jika pada awal tahun 1900-an negara-negara barat adikuasa dari Eropa dan Amerika mampu menguasai dunia dalam segala bidang kehidupan, maka otomatis mereka dengan leluasa ‘berhak’ untuk menuliskan sejarah peradaban dunia menurut versi mereka.

Segala macam teori ilmu pengetahuan pun menjadikan negara-negara barat sebagai kiblatnya. Hal ini pun masih terus berlangsung hingga sekarang. Untuk mengungkapkan sebuah kebenaran yang terkandung di dalam sebuah ilmu pengetahuan, rasanya belum sah jika belum menukil pendapat atau teori-teori yang berasal dari ilmuwan barat.

Tetapi dunia memang selalu ‘berputar’, karena ternyata pada saat ini justru negara-negara dari belahan timur dunialah yang terus bangkit, dan terus mengalahkan hegemoni negara-negara barat tersebut secara perlahan. China, Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan Turki (yang mewakili kebangkitan kembali peradaban Islam), adalah contoh nyata dari negara-negara yang sedang mengalami kebangkitan tersebut. Artinya, negara-negara timur dunia tersebut saat ini memang sedang menulis sejarah kemenangan mereka, sejarah yang akan dilihat dan dipelajari oleh generasi yang akan datang.

Hal ini pun diaminkan dan dibenarkan oleh ahli sejarah Amerika Samuel Huntington dalam buku masterpiecenya The Clash of Civilization, yang terbit pertamakali pada tahun 1996, di mana ia mengungkapkan bahwa jika dibandingkan pada tahun 1920-an, Barat termasuk Amerika Serikat jauh mengalami kemerosotan. Faktanya yang terjadi pun memang demikian, negeri-negeri seperti China, Korea Selatan, dan beberapa Negara Islam belakangan ini mampu merepotkan negara-negara adidaya tersebut.

Huntington akhirnya sampai kepada kesimpulan, bahwa jika Amerika Serikat dan Barat ingin tetap menjadi pemimpin peradaban-peradaban dunia, maka solusinya adalah dengan menghentikan laju dan gerak peradaban yang sedang tumbuh seperti peradaban Islam dan China, dengan cara apa pun.

Dari pandangan yang dikemukakan oleh Samuel Huntington tersebut, jelaslah bahwa ada persaingan yang sangat massive dalam segala bidang, yang sedang dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai perwakilan dunia dari negara-negara barat, dan China sebagai perwakilan kebangkitan negara-negara timur dunia, dimana negara-negara Islam juga ikut ‘terlibat’ di dalamnya. Ini artinya ada ‘pertarungan segitiga’ antara Barat, Timur, dan Islam untuk dapat saling menguasai antara satu dengan yang lainnya.

Mengapa ‘pertarungan segitiga’ ini dapat terjadi saat ini? Menurut Prof. Dr. Mohammad Moniruzzaman, seorang Profesor di Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), ada argumen kuat yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.. Pertama, karena ‘kehausan’ negara-negara barat dan China yang tak terpuaskan akan energi sehingga mendorong mereka untuk menjangkau negara-negara Islam/muslim yang kaya minyak di sekitarnya. Terlepas dari kesepakatan perdagangan negara-negara Barat dan China yang terus meningkat, mereka memang sangat bergantung pada gas dan minyak bumi di negara-negara Muslim di Semenanjung Arab, Iran, Asia Tengah, dan juga Asia Tenggara.

Kedua, Negara-negara Muslim Asia Selatan dan Tenggara yang juga merupakan pemasok bahan mentah yang sangat besar, serta pasar untuk produk-produk industri dari China, pada khususnya. Adapun ketergantungan pada negara-negara ini akhirnya diimbangi dengan meningkatnya investasi China di negara-negara muslim tersebut, tidak terkecuali di Indonesia.*** (Bersambung)

Jakarta, 1 Juni 2021/ 20 Syawal 1442H
*Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor.

2,251 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Copyright © 2019 Pajajaran News                        All Rights Reserved Powered by MasHer