Sepercik Dusta

Oleh: H. J. Faisal

PN l— Suatu hari, sampailah Abu Nawaz di sebuah kerajaan kecil. Seperti biasa, untuk mendapatkan simpati sang raja dan agar tetap dianggap sebagai orang yang pintar, Abu Nawaz mulai melancarkan aksinya.

Abu Nawaz berkata kepada sang raja, yang disaksikan oleh para menteri dan punggawa kerajaannya, bahwa dia mempunyai sebuah topi, yang mana di dalam topi tersebut, akan terlihat surga dan para bidadarinya sedang bercengkrama di dalam surga tersebut.

Agar dapat melihat itu semua di dalam topi tersebut, maka syaratnya adalah orang tersebut harus mempunyai hati yang bersih, dan berilmu tinggi.

Akhirnya, topi tersebut diberikan kepada sang raja, sebagai orang yang pertama melihatnya untuk membuktikan kebenaran omongan Abu Nawaz.

Tentu saja, karena ingin mempertahankan predikat sebagai orang yang baik, berilmu tinggi, apalagi dia adalah seorang raja, sang raja mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Abu Nawaz adalah benar, bahwa di dalam topi tersebut, terlihatlah sebuah surga, dan para bidadari di dalamnya.

Begitupun ketika topi tersrbut diperlihatkan kepada para menteri raja, dan para punggawa raja lainnya. Mereka sepakat dengan raja, bahwa di dalam topi tersebut memang terlihat sebuah surga dan para bidadarinya.

Melihat itu semua, Abu Nawaz hanya tersenyum. Dia tidak perduli bahwa bualannya itu dipercaya dan diyakini oleh raja dan para menterinya.

Yang terpenting, dia bisa mendapatkan sambutan yang hangat, fasilitas menginap yang mewah dari sang raja, dan makanan yang lezat-lezat.

Ketika sebuah bualan atau konspirasi kebohongan sudah diyakini oleh orang2 yang berilmu dan memegang kekuasaan tinggi, apalagi yang akan menjadi hambatannya?

Wallahu’allam bissowab
Jakarta, 11 Juli 2021

768 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Copyright © 2019 Pajajaran News                        All Rights Reserved Powered by MasHer