banner 728x250

Paradocs #2 “Run Wild”: Pameran Lintas Generasi Hadir di TIM

banner 120x600
banner 468x60

PN. JAKARTA l — Sejumlah perupa dari komunitas Perupa Jakarta (Peruja) dan alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar pameran seni rupa bertajuk Paradocs #2 — Run Wild di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM). Pameran ini merupakan program tahunan yang menempatkan seni sebagai ruang eksplorasi terbuka, dialog kritis, serta percobaan pemaknaan lintas disiplin.

Mengusung tema Run Wild, edisi kedua Paradocs menghadirkan seniman lintas generasi dengan latar pendidikan dan pendekatan visual yang beragam. Pameran ini sekaligus digelar bertepatan dengan ulang tahun TIM dan momentum Hari Pahlawan, menjadikannya ruang refleksi tentang keberanian dalam berkarya dan melampaui batas.

banner 325x300

Dalam gagasan kuratorial Firman Lie, Paradocs diposisikan sebagai para-document—yakni cara membaca seni yang berdiri di sisi dokumen, bukan menggantikannya. Karya seni tidak hanya dipandang sebagai arsip atau catatan formal, tetapi sebagai peristiwa yang hidup, bergerak, dan bernegosiasi dengan konteks sosial, budaya, politik, maupun batin pencipta.

Para peserta pameran.

 

Paradocs mengusulkan pembacaan seni tidak hanya melalui bentuk visual, tetapi melalui nuansa, intuisi, vibrasi gagasan, serta ruang ketaksaan yang memberi peluang interpretasi lebih luas.

Tema Run Wild menekankan keberanian artistik untuk jujur pada proses kreatif, keluar dari pola rutinitas, dan melampaui sistem produksi seni yang homogen. Di tengah ritme Jakarta yang cepat dan penuh struktur, “keliaran kreatif” dianggap sebagai cara bagi seniman menjaga kesehatan intelektual dan emosional.

“Run Wild bukan ajakan untuk chaos, tetapi untuk tetap setia pada intuisi, kegelisahan, dan kebebasan batin,” ujar kurator.

Suasana pameran

Sebagai ikon seni modern Indonesia sejak 1968, TIM memiliki sejarah panjang sebagai ruang pertemuan perupa, penyair, teaterawan, dan pemikir lintas disiplin. Namun setelah revitalisasi fisik pada 2020–2022, muncul sejumlah pertanyaan baru mengenai peran TIM:

Apakah TIM tetap menjadi ruang dialog kritis dan bukan hanya venue? Bagaimana posisinya di tengah maraknya ruang seni independen? Mampukah TIM tetap menampung eksperimen radikal sebagaimana sejarahnya?PAmeran Pradocs #2 menjadi ruang untuk membuka kembali percakapan tersebut.

Pameran ini mempertemukan dua ekosistem seni yang berbeda namun saling melengkapi. IKJ membawa disiplin akademik melalui struktur dan metodologi formal, sementara Peruja menghadirkan spontanitas, otonomi, serta praktik seni berbasis komunitas.

Pertemuan keduanya menjadikan Paradocs #2 sebagai “laboratorium terbuka” tempat teori bertemu pengalaman, dan sistem formal bernegosiasi dengan energi liar yang tidak dibatasi institusi.

Rindy Ketua Peruja.

Menurut Rindy selaku Ketua Peruja menjelaskan, Paradocs dirancang sebagai program rutin tahunan dengan tujuan menjadi ruang dialog seni lintas generasi, menyediakan dokumentasi alternatif bagi perkembangan seni Jakarta, menghidupkan kembali fungsi TIM sebagai ruang pemikiran dan eksplorasi.

Pameran Terbuka untuk Publik mulai 255 November — 1 Desember 2025 di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

“Pameran ini mengajak publik mengalami seni sebagai ruang kemungkinan—bahwa seni hidup bukan karena ia dicatat, tetapi karena ia terus bergerak,” tutup Rindy.*** (Dull)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *