banner 728x250

Enam Tahun PERUJA: Seni, Duka Nusantara, dan Ruang Batin Jakarta

banner 120x600
banner 468x60

PN. JAKARTA l — Di tengah kota yang bergerak cepat dan kerap terasa dingin oleh logika ekonomi, sekelompok perupa memilih berhenti sejenak. Mereka berkumpul, melukis bersama, dan merespons duka yang datang silih berganti dari berbagai penjuru Nusantara. Itulah yang dilakukan Komunitas Perupa Jakarta Raya (PERUJA) saat memperingati enam tahun kiprahnya di Balai Budaya Jakarta, Selasa, 30 Desember 2025.

Alih-alih merayakan ulang tahun secara seremonial, PERUJA menggelar kegiatan melukis kolektif bertajuk “Bela Rasa: Refleksi 6 Tahun PERUJA, Kepedulian dan Empati atas Berdukanya Nusantara.” Tema ini menjadi penanda sikap: seni diposisikan bukan sebagai ornamen kota, melainkan sebagai cara membaca dan merasakan realitas sosial yang tengah dilanda bencana alam, kegelisahan sosial-politik, serta banjir informasi palsu di ruang publik.
Puluhan perupa menggoreskan warna dan bentuk di atas kanvas berukuran besar dan kecil—150 x 170 sentimeter serta 30 x 40 sentimeter. Proses kolektif ini menjadi semacam ritual bersama: ekspresi empati, catatan visual atas luka sosial, sekaligus doa yang tak terucap. Karya-karya tersebut tidak diarahkan pada satu narasi tunggal, tetapi justru membiarkan keberagaman tafsir tumbuh dari pengalaman personal masing-masing perupa.

banner 325x300
PERUJA melukis bersama.

Ketua PERUJA, Rindy, menyebut seni sebagai “ventilasi sosial” di tengah Jakarta yang semakin padat dan bising. Menurut dia, ketika kota terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, ada risiko nilai kemanusiaan terpinggirkan. “Seni menjaga ruang batin agar tetap bernapas,” ujarnya. Dalam konteks itu, motto Betawi “Merdeka S’maunya Guwe” dimaknai bukan sebagai sikap serampangan, melainkan keberanian untuk jujur, bebas dari tekanan formalitas, dan berpihak pada suara nurani.

Selain melukis, acara ini juga diisi diskusi yang menempatkan PERUJA dalam lanskap sejarah kebudayaan Jakarta. Perupa sekaligus Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, Aidil Usman, mengingatkan bahwa Jakarta pernah menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan. Ia merujuk pada era Gubernur Ali Sadikin, ketika ruang-ruang seni seperti Taman Ismail Marzuki dan Pasar Seni Ancol dibangun sebagai infrastruktur kebudayaan, bukan sekadar pelengkap.

“Dalam konteks itu, PERUJA melihat dirinya sebagai bagian dari estafet sejarah,” kata Aidil.

Melalui karya kolektif, komunitas ini mencoba menerjemahkan semangat ‘Jadi Karya untuk Nusantara’ dalam bahasa visual yang lebih membumi dan humanis.

Sementara itu, Chrysnanda Dwilaksana menekankan seni sebagai instrumen hidup yang melampaui kepentingan seniman semata. Menurutnya, kesenian juga berfungsi sebagai pesan moral bagi para pengambil kebijakan. “Kualitas sebuah kota tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kesehatan ruang batin warganya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seni hadir di semua lini kehidupan—termasuk dalam berorganisasi dan berpolitik—sebagai penyeimbang logika kekuasaan.

Kompak selalu bersama PERUJA

Di usia enam tahun, PERUJA tampak ingin menegaskan posisinya: bukan sekadar komunitas perupa, tetapi ruang bersama untuk merawat empati dan solidaritas. Di tengah Jakarta yang terus berubah, mereka menawarkan satu hal yang kian langka—kesediaan untuk merasa, mendengar, dan merespons duka bersama melalui seni.

“Warisan pemikiran lewat kesenian dan kebudayaan,adalah cara untuk menghidupkan kota dengan seluruh dinamikanya,” kata Rindu, menutup acara.*** (Daus)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *