PN. KABAR — Satria Kencana Nusantara (SKN) kembali menggelar tour religi dan tapak tilas sejarah Nusantara pada 3–4 Januari 2026. Kegiatan yang dipimpin langsung Ketua Umum SKN, R. Abdul Latif, ini tidak sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga upaya merawat nilai-nilai budaya Nusantara yang hidup di tengah masyarakat.
Salah satu agenda utama adalah penyerahan tongkat khutbah setinggi 170 sentimeter kepada Masjid Jami Surya Kencana di Kampung Padaruum, Desa Benjot, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tongkat khutbah tersebut dimaknai sebagai simbol keberlanjutan tradisi dakwah dan etika kepemimpinan spiritual yang berakar pada budaya lokal.
Penyerahan dilakukan usai salat subuh dan diterima oleh para tokoh adat Kampung Padaruum, di antaranya Abah Baden, Abah Badih, dan Abah Luyah. Prosesi berlangsung sederhana, disaksikan para sepuh kampung serta warga, mencerminkan kuatnya relasi antara agama, adat, dan kehidupan sosial masyarakat.
Masjid Jami Surya Kencana sendiri berdiri tiga tahun lalu sebagai hasil gotong royong relawan keluarga besar Satria Kencana Nusantara bersama warga setempat. Bagi masyarakat Padaruum, masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga pusat musyawarah, pendidikan moral, dan pelestarian nilai-nilai tradisi.
Selama kegiatan berlangsung, tim Touring Religi SKN bermalam di masjid tersebut dan menikmati sarapan pagi di rumah salah satu tokoh kampung, Abah Yeyen. Interaksi ini menjadi bagian dari praktik budaya silaturahmi yang menegaskan pentingnya hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat Sunda.

Pada Minggu pagi, 4 Januari 2026, rombongan melanjutkan perjalanan ke Situs Megalitikum Gunung Padang untuk melakukan tapak tilas sejarah Nusantara. Kunjungan ini dimaknai sebagai upaya menyambungkan spiritualitas masa kini dengan jejak peradaban leluhur, sekaligus mengingatkan bahwa kebudayaan Nusantara dibangun di atas lapisan sejarah yang panjang.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Satria Kencana Nusantara menegaskan perannya sebagai komunitas yang tidak hanya bergerak dalam aktivitas religi, tetapi juga dalam merawat identitas budaya dan kesadaran sejarah sebagai fondasi kehidupan berbangsa.*** (Daus)


















