PN.JAKARTA — Forum Bincang Sastra di Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (30/3/2026), menghadirkan pembacaan kritis atas buku Mesir Love Story di Bawah Langit Para Nabi karya Halimah Munawir. Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda menyebut buku tersebut sebagai karya perjalanan yang melampaui laporan destinasi.
“Ini bukan sekadar catatan perjalanan. Ada lapisan refleksi yang membuatnya hidup,” kata Ahmadun dalam diskusi yang dipandu Rini Intama.
Menurut Ahmadun, Halimah menempatkan Mesir bukan hanya sebagai latar geografis, melainkan ruang batin. Narasi bergerak dari situs-situs sejarah ke pengalaman personal penulis, lalu kembali pada tafsir makna. Ia menilai kekuatan buku ini terletak pada cara penulis merajut unsur religius, sejarah, dan emosi secara bersamaan.
Nada serupa disampaikan penyunting buku, Putra Gara. Ia mengatakan proses penyuntingan diarahkan untuk mempertahankan suara personal penulis. “Tantangannya menjaga keseimbangan antara kelugasan bertutur dan kedalaman pesan,” ujarnya.
Putra menilai gaya bahasa Halimah cenderung liris, tetapi tetap komunikatif. Menurut dia, pendekatan tersebut membuat pembaca mudah masuk ke dalam pengalaman yang ditawarkan buku, tanpa kehilangan konteks perjalanan.
Diskusi yang dihadiri pegiat literasi itu juga menyoroti posisi buku ini dalam lanskap sastra perjalanan religi di Indonesia. Ahmadun melihat karya tersebut sebagai upaya memperluas kemungkinan genre—tidak hanya deskriptif, tetapi juga reflektif.
Bagi Halimah Munawir, Mesir Love Story di Bawah Langit Para Nabi menjadi medium untuk merawat ingatan sekaligus menyampaikan pengalaman spiritual. Sementara bagi pembacanya, buku ini, setidaknya menurut para pembicara dalam forum itu, menawarkan ruang perenungan yang jarang hadir dalam buku perjalanan populer.*** (Daus)


















