Wartatrans.com, DEPOK — Sebanyak 23 siswa dari berbagai SMA di Kota Depok mengikuti cabang lomba jurnalistik dalam Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026. Ajang ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengasah kemampuan menulis sekaligus memahami praktik jurnalistik secara langsung.
Kegiatan yang berlangsung di SMA Negeri 4 Depok, Sabtu (25/4/2026), menghadirkan tantangan bagi peserta untuk tidak hanya menulis dengan baik, tetapi juga mampu menangkap isu secara tajam serta menyajikannya secara berimbang dan beretika.
Salah satu peserta mengungkapkan bahwa lomba ini memberikan pengalaman baru dalam dunia jurnalistik. “Kami jadi belajar bagaimana menulis berita yang tidak sekadar informatif, tetapi juga punya nilai dan sudut pandang yang kuat,” ujarnya.
Dalam proses penilaian, panitia melibatkan praktisi jurnalistik sebagai dewan juri, yakni Putra Gara, Ireng Halimun, dan Wijaya. Kehadiran mereka dinilai memberikan wawasan langsung tentang standar kerja jurnalistik di lapangan.
Putra Gara mengatakan, kompetisi ini menjadi sarana penting bagi siswa untuk mulai memahami dunia jurnalistik secara lebih mendalam. “Yang kami lihat bukan hanya hasil tulisan, tetapi juga proses berpikir, kepekaan terhadap isu, dan etika dalam menyampaikan informasi,” katanya.
Ireng Halimun menambahkan, keaslian karya menjadi aspek utama dalam penilaian. “Dari karya yang orisinal, kita bisa melihat karakter dan keberanian siswa dalam menyampaikan fakta,” ujarnya.
Sementara itu, Wijaya menilai FLS3N sebagai titik awal bagi lahirnya generasi muda yang peduli terhadap literasi. “Ini adalah ruang belajar. Harapannya, pengalaman ini bisa membentuk minat mereka untuk terus berkembang di bidang jurnalistik,” tuturnya.
Seluruh juri yang terlibat juga telah menandatangani pakta integritas sebagai bentuk komitmen menjaga objektivitas dan profesionalitas dalam penilaian.
Melalui kegiatan ini, FLS3N tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah pembinaan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan literasi dan berpikir kritis di tengah arus informasi yang semakin kompleks.*** (Dulloh)


















