Desa Budaya dan Kenangan Tentang Bapak

Oleh Fanny J. Poyk

PN.JAKARTA l — Hampir di setiap percakapan, ide Pak Gerson tentang ‘Desa Budaya’ selalu ia ucapkan. Idenya ini kemudian mulai menjadi kenyataan di era milenial ini. Desa Budaya yang dimaksudnya adalah, setiap sarjana harus kembali ke kampung halamannya masing-masing setelah mereka lulus kuliah.

Membangun desa budaya dengan kembali memberi contoh bertani yang baik, membuat jaringan internet yang bisa mengakses keadaan di seluruh dunia dengan memperkenalkan budaya daerah masing-masing pada organisasi-organisasi seni juga sains, sehingga terjalin komunikasi yang intens dan nantinya mendapatkan undangan dari mereka, bertani menggarap sawah atau ladang dan beternak, memelihara ikan dll, sehingga kebutuhan pokok makanan empat sehat lima sempurna terpenuhi dan dengan demikian manusia Indonesia tidak tergantung pada sang kapitalis. Membuat website, mempertunjukkan teater dengan kesenian daerah masing-masing yang dimasukan ke dalam website (sekarang Youtube), memberikan pelatihan kepenulisan, dengan demikian kelak akan tumbuh manusia-manusia Indonesia yang mandiri, tidak korup karena di dalamnya mereka belajar filsafat dan agama secara bijak dan tidak anarkis. Jadi tidak ada ekstrim kiri maupun kanan, yang ada adalah jalan tengah atau moderation.

Begitulah sosok Gerson Poyk, sebagai manusia biasa memang ia tak selalu sempurna. Kehidupan yang sangat militan sebagai sastrawan yang terus berpikir tentang bagaimana keadaan dunia ini, terkadang membuat keluarganya harus menerima imbas dari kesederhanaan pola hidup yang ia jalani. Suatu hari tatkala televisi baru masuk ke Bali, keuarganya sangat senang dengan keberadaan benda yang kala itu sangat bernuansa borjouis. Beberapa hari kemudian, televisi itu lenyap, ia menjualnya, uangnya diberikan ke seorang penulis pemula yang anaknya sakit keras. Ketika anak-anak dan istrinya marah besar, Gerson dengan santainya bilang, “untuk sementara kalian nonton di rumah tetangga dulu. Nanti jika Bapak ada duit, kita beli lagi.” Dan puluhan tahun berlalu, televisi baru tidak pernah terbeli. Anak-anaknya tetap menonton di rumah tetangga.

Kisah sedih lainnya yang ada di buku ‘Gerson Poyk, NTT, Bali dan Aku’ bertutur tentang bagaimana sang sastrawan berpindah dari satu rumah kontrakkan ke kontrakkan lainnya. Bahkan pernah baru sehari menempati rumah kontrakan yang baru disewa, mereka diminta pindah oleh si pemilik rumah karena sang isteri tak kuat melihat ‘berisiknya’ suara mesin ketik yang nyaring bunyinya. Dan malam itu juga Gerson dan keluarganya membuntal pakaian mencari kontrakan baru, mereka bagai kaum gipsy yang mencari tempat berteduh. Kisah yang memang sarat dengan kehidupan tak nyaman baik pemenuhan secara materi maupun finansial lainnya. Namun begitulah kepasraan yang total dari sosok seorang Gerson Poyk, anak-anaknya menjadi sarjana dan jurnalis dengan jalan yang tak terduga, sebab selain berkensenian, ia selalu menekankan pada mereka untuk serius menekuni jalur pendidikan, sebab di sanalah kelak harkat dan martabat terangkat.

Pada kesempatan yang sama, Kurnia Effendi sang penulis prosa dan esais juga menuturkan tentang karya Fanny J, Poyk di buku antologi cerpennya yang berjudul ‘Tanah Warisan Leluhur’. Fanny satu-satunya putri yang mewarisi bakat sang ayah, sementara adik-adiknya lebih memilih jalur eksakta dengan menjadi dosen matematika di Universitas Indonesia. Dalam ulasannya Kurnia Effendi menuliskan bahwa hampir seluruh cerpen Fanny bertutur tentang penderitaan dan kemanusiaan. Menurutnya, membaca cerita-cerita Fanny Jonathans Poyk (Fanny J. Poyk) dalam kumpulan cerpen (tunggal) kemanusiaan, (hampir) tidak saya temukan kegembiraan. Hal itu menimbulkan pertanyaan pribadi: Apakah persoalan kemanusiaan (selalu) tentang kesedihan, penderitaan, keputusasaan, ketidakberdayaan, harapan semu, atau tentang korban tindakan kekerasan orang lain?

Tentu tidak salah mengumpulkan jenis kisah murung yang kadang-kadang menyesakkan dada lantaran ikut geram atau hanyut terbawa arus duka para tokohnya. Saya yakin juga, Fanny yang gemar menulis cerita anak dan menggarap tema cinta, banyak menyuarakan keceriaan dan romantisme, tetapi tidak dalam buku ini. Bahkan Fanny pernah bercerita lisan, di masa kecilnya dia sudah mengenal para sahabat ayahnya seperti Umar Kayam, Danarto, Rayani Sriwidodo, Romo Mangun, Darmanto Jatman dan lain-lain. Mungkin banyak rahasia pribadi para pengarang itu yang juga ikut tersimpan dalam benak Fanny. Sejak 1973, saat usianya 13 tahun, Fanny sudah membuat puisi dan dimuat di Koran Sinar Harapan, lalu Fanny mulai merintis karier jurnalistik. Saya kira itu modal sekaligus potensi yang membuat bakat (genetika) menulisnya tumbuh subur. Bila dihitung karyanya sejak masa remaja, sudah pasti mendekati atau melebihi angka seribu.
Dalam kumpulan cerpennya itu, bukan yang pertama saya baca, sebab ada buku-buku sebelumnya termasuk novel yang menunjukkan jiwa jurnalistik melekat padanya. Dalam mengolah gagasan selalu menggabungkan antara realitas (latar, budaya, isu terkini pada masanya) dan imajinasi yang seperti tak habis-habis. Mudah ditengarai karena dalam pergaulan saya dengannya, banyak cerita dia sampaikan terkait pengalamannya. Sederet kejadian lucu yang sebetulnya ironis. Menariknya, Fanny tidak menjadikannya arsip kesedihan, tetapi mencurahkan dengan charming, dengan ekspresi yang membuat para pendengarnya malah tertawa. Seperti juga Joko Pinurbo (penyair kondang dari Yogya) yang mampu atau berhasil mentertawakan nasib (sebagian besar) kalangan panyair, juga kaum marginal, orang-orang kelas bawah yang menjadi pemandangan akrabnya.

Apakah Fanny termasuk kaum marginal? Saya bilang tidak. Dia pintar menempatkan diri sebagai saksi (baik saat berperan menjadi jurnalis maupun pengarang) yang melihat sudut-sudut spesifik dari kehidupan ini. Fanny bukan tidak pernah berada di antara kalangan borjuis atau justru menjadi bagian dari “kemewahan” seorang sastrawan. Dengan kata lain, Fanny kerap menjadi gugus depan penulis negeri ini dan bergaul dengan sastrawan keren, mengikuti event terhormat, namun bukan berarti kehilangan ketajaman mata pena alias tumpul perasaannya. Hampir seluruh cerita yang dituturkan dalam kumpulan cerpen bertajuk Tanah Warisan Leluhur ini, membawa kita pada kemurungan dan kemarahan.
Saya kira ini titik bidik yang strategis dalam mengusung kesatuan ide (atau ideologi?) dengan menyentuh perasaan terdalam pembaca. Sesungguhnya, di sekitar kita, begitu dekat (seperti penyair Abdul Hadi WM menggambarkan kedekatan seorang hamba dengan Khaliknya), banyak hal yang memerlukan uluran tangan kita atau minimal upaya memberi akses untuk mengangkat penderitaan manusia. Namun yang terjadi, sebagaimana kisah-kisah tuturan Fanny, adalah ketidakpedulian kalau bukan disebut sebagai pembiaran kekejian berlangsung. Barangkali malahan kita menjadi satu di antara yang jahat itu. Sekalipun sebagian menjadi klise, lelaki pemabuk yang tak bertanggung jawab, penyalahgunaan wewenang kekuasaan, siksaan penyakit, transaksi prostitusi, kita melihat ada sisi-sisi kemanusiaan yang rupanya tidak pernah berhenti ditindas dan dilenyapkan dari hati nurani sejak zaman prasejarah. Dengan perbedaan medium, praktik “yang kuat menerkam yang lemah” itu terus terjadi, berseri-seri, dalam skala kecil (rumahan) sampai porsi besar (pemerintah daerah, negara, seperti yang dikisahkan dalam “Tanah Warisan Leluhur”. Ah, duka itu milik kita, Fanny. Begitulah penggambaran dari 41 cerpen yang ditulis Fanny J. Poyk di dalam buku antologi tersebut.

Acara yang tidak bersifat akademis, namun berbobot itu diisi dengan pembacaan dan musikalisasi puisi, juga cerpen besutan almarhum Gerson Poyk dan sang putri dengan gaya khas masing-masing penyair. Tarian dari Rote NTT “Foti Lalendo” dari Sanggar Cendana Wangi, menambah semaraknya suasana. Hampir seratus seniman, jurnalis, penulis, penyair, pemain teater dan pelukis hadir. Di tengah guyuran hujan dan kesederhanaan yang tersaji, sastra tetap menjadi ajang yang dicintai para pengikutnya. Ya, menulis merupakan kebahagiaan yang paling hakiki.***

 31 total views,  1 views today

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Silakan mengirimkan sanggahan dan/atau koreksi kepada Kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers melalui email: pajajaranred@gmail.com Terima kasih.