banner 728x250

Launching di Cairo-Mesir, Karya Pinisepuh Sunda Halimah Munawir Mempererat Hubungan Budaya Indonesia Mesir

banner 120x600
banner 468x60

PN. CAIRO l — Dalam lanskap sastra Sunda, Halimah Munawir menempati posisi yang kerap disebut sebagai pinisepuh—bukan semata karena rentang pengalamannya yang panjang, tetapi karena konsistensinya menjaga kesinambungan nilai budaya Sunda di tengah perubahan zaman. Sejak awal kiprahnya, ia menjadikan bahasa Sunda bukan hanya sebagai medium ekspresi estetik, melainkan sebagai ruang kontemplasi spiritual dan etika sosial.

Dalam tradisi Sunda, pinisepuh dipahami sebagai sosok yang memikul tanggung jawab moral untuk ngariksa basa, ngajaga rasa, jeung miara budaya. Halimah menjalankan peran tersebut melalui karya sastra, forum kebudayaan, hingga pembinaan generasi muda. Ia kerap menegaskan bahwa bahasa Sunda tidak boleh berhenti sebagai artefak masa lalu, tetapi harus terus hidup, berdialog, dan berani hadir di ruang global.

banner 325x300

Kehadiran bahasa Sunda dalam Keagungan Kota Suci di Mesir menjadi manifestasi paling nyata dari sikap kepinisepuhan itu. Dengan menempatkan puisi-puisi berbahasa Sunda sejajar dengan bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab, Halimah menunjukkan bahwa bahasa daerah memiliki kapasitas yang sama untuk mengungkapkan pengalaman spiritual universal.

“Sunda punya kosakata batin yang sangat kaya untuk berbicara tentang ketuhanan, rindu, dan kepasrahan,” ujarnya dalam salah satu sesi diskusi peluncuran buku di Cairo.

Sebagai pinisepuh, Halimah juga memandang sastra sebagai jalan pengabdian. Ia tidak sekadar menulis untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memastikan agar nilai-nilai kearifan lokal—seperti silih asih, silih asah, silih asuh—tetap berdenyut dalam kesadaran kolektif. Nilai-nilai itulah yang secara halus meresap dalam puisi-puisi Keagungan Kota Suci di Mesir, ketika relasi manusia dengan Tuhan selalu disandingkan dengan relasi antarmanusia.

Peluncuran buku di Kairo, dengan demikian, tidak hanya dapat dibaca sebagai pencapaian personal seorang penyair, tetapi juga sebagai peristiwa kultural bagi sastra Sunda. Untuk pertama kalinya, suara kepinisepuhan Sunda hadir dan bergema di pusat peradaban Arab, membawa pengalaman spiritual dari Tatar Sunda ke ruang diskursus sastra Islam internasional.
Dalam konteks itu, Halimah Munawir tampil sebagai jembatan antara generasi, budaya, dan peradaban. Ia memperlihatkan bahwa menjadi pinisepuh bukan berarti berhenti melangkah, melainkan justru berani membuka jalan agar bahasa dan budaya yang diwarisi tetap menemukan maknanya di dunia yang terus berubah.*** (Dulloh)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *