PN. BOGOR | – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, Haji Fikri Hudi Oktiarwan, S.Sos, menyoroti kondisi Kabupaten Bogor yang belakangan ini dirasakan masyarakat semakin panas. Daerah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai Kota Hujan kini mengalami peningkatan suhu udara yang cukup signifikan, bahkan pada siang hari suhu dapat mencapai 32–34 derajat Celsius.
Menurut Haji Fikri, perubahan tersebut tidak boleh dianggap sebagai fenomena biasa. Ia menilai kenaikan suhu merupakan dampak dari berbagai faktor lingkungan yang harus segera direspons melalui kebijakan pembangunan yang lebih ramah lingkungan.
“Bogor memiliki identitas sebagai daerah yang hijau dan sejuk. Karena itu, ketika masyarakat mulai merasakan suhu yang semakin panas, kita harus menjadikannya sebagai peringatan untuk lebih serius menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Haji Fikri.
Ia menjelaskan, berdasarkan kajian para pakar, meningkatnya suhu di Bogor dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor. Di antaranya adalah fenomena El Niño yang mengurangi curah hujan, dampak perubahan iklim global, semakin berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya pembangunan kawasan permukiman dan industri, hingga munculnya fenomena Urban Heat Island (pulau panas perkotaan) akibat dominasi bangunan beton dan aspal.
Selain itu, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, aktivitas industri, penggunaan pendingin ruangan (AC), serta konsumsi energi yang terus meningkat juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan suhu di kawasan perkotaan.
Haji Fikri menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun masyarakat. Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus menjaga keseimbangan lingkungan agar kualitas hidup masyarakat tetap terpelihara.
“Alih fungsi lahan harus dikendalikan. Jangan sampai ruang hijau terus berkurang karena pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan. Pohon adalah penyejuk alami yang sangat penting bagi masa depan Kabupaten Bogor,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat yang membidangi pembangunan dan lingkungan hidup, Haji Fikri mendorong sejumlah langkah konkret untuk mengurangi dampak meningkatnya suhu udara di Kabupaten Bogor.
Pertama, pemerintah daerah perlu mempertahankan dan memperluas ruang terbuka hijau di setiap kecamatan. Kedua, menggalakkan gerakan penanaman pohon secara masif dengan melibatkan masyarakat, sekolah, komunitas, hingga dunia usaha. Ketiga, memperketat pengendalian alih fungsi lahan agar kawasan resapan air dan kawasan hijau tetap terjaga.
Selain itu, ia juga mengajak masyarakat mengurangi emisi dengan memanfaatkan transportasi yang lebih ramah lingkungan, menghemat penggunaan energi, serta membangun budaya peduli lingkungan mulai dari tingkat keluarga.
“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Setiap pohon yang kita tanam hari ini adalah investasi untuk udara yang lebih sejuk bagi anak cucu kita,” katanya.
Haji Fikri berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bogor semakin memperkuat kebijakan pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan ketahanan iklim.
Menurutnya, jika langkah-langkah tersebut dilakukan secara konsisten, Kabupaten Bogor dapat tetap mempertahankan identitasnya sebagai daerah yang hijau, nyaman, dan layak huni di tengah tantangan perubahan iklim.
“Jangan sampai kita kehilangan jati diri Bogor sebagai Kota Hujan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, saya yakin kita mampu menjaga lingkungan sekaligus mewariskan Kabupaten Bogor yang lebih hijau, lebih sejuk, dan lebih sehat untuk generasi mendatang,” pungkas Haji Fikri.








