PN. BEKASI — Memperingati Hari Batik, Rumah Budaya HMA menggelar diskusi publik di Restoran Rumah Jawa, Jatiwarna, Bekasi, Sabtu (3/10/2026). Diskusi yang berlangsung pukul 10.30 hingga 13.30 WIB itu mengangkat batik bukan sekadar sebagai kain bermotif, tetapi sebagai kekayaan budaya yang menyimpan nilai, filosofi, dan perjalanan batin manusia.
Sastrawan dan budayawan Halimah Munawir dalam paparannya menjelaskan latar belakang batik serta proses kreatif yang melandasi lahirnya novel Padmi. Batik menjadi salah satu kekayaan budaya yang hadir dalam karya tersebut, sekaligus pintu masuk untuk melihat hubungan antara tradisi, kreativitas, dan kehidupan masyarakat.
Menurut Halimah, proses berkarya tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari pengalaman, pengamatan, serta kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Dalam konteks itulah batik dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus medium untuk merekam nilai-nilai budaya,” terang Halimah.
Sementara itu, artis sekaligus pengusaha batik Erna Santoso mengulas filosofi batik dari perspektif proses pembuatannya. Mulai dari pemilihan motif, penggunaan malam, proses pewarnaan hingga menjadi kain batik, setiap tahapan memiliki ketelitian dan makna tersendiri.
“Batik, dalam proses tersebut, tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga kesabaran, ketekunan, dan rasa. Filosofi itulah yang kemudian membuat batik memiliki dimensi lebih dalam daripada sekadar produk fesyen,” terang Erna.
Diskusi yang dimoderatori pelaku seni Putra Gara berlangsung hangat dan interaktif. Pada sesi tanya jawab, peserta tidak hanya membahas teknik dan proses pembuatan batik, tetapi juga perkembangan batin yang menyertai proses kreatif seorang seniman dan pembatik.

Pertukaran gagasan antara narasumber dan peserta membuat diskusi berkembang dari persoalan batik sebagai warisan budaya menuju persoalan bagaimana budaya tetap hidup melalui karya dan pengalaman manusia.
Hari Batik, dengan demikian, tidak berhenti pada seremoni mengenakan batik. Ia menjadi momentum untuk kembali memahami bahwa di balik selembar kain terdapat pengetahuan, filosofi, kerja kreatif, dan perjalanan panjang kebudayaan Indonesia.
Batik bukan sekadar motif yang diwariskan. Ia adalah budaya yang terus diciptakan, ditafsirkan, dan dihidupkan dari generasi ke generasi.*** (Nurdin)












