PN. BOGOR | — Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, Haji Fikri Hudi Oktiarwan, S.Sos mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap sektor industri dan perekonomian Jawa Barat yang selama ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Haji Fikri yang disampaikannya kepada Pajajaran.News, Jawa Barat memiliki karakteristik ekonomi yang sangat bergantung pada sektor industri manufaktur, mulai dari industri tekstil, otomotif, elektronik, makanan dan minuman, farmasi hingga petrokimia. Sebagian besar industri tersebut masih menggunakan bahan baku, mesin, maupun komponen yang berasal dari impor sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Ketika rupiah melemah, biaya produksi industri otomatis meningkat karena harga bahan baku impor menjadi lebih mahal. Kondisi ini tentu akan memberikan tekanan terhadap dunia usaha, khususnya sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Barat,” ujar Haji Fikri. Rabu,(10/6/2026)
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat tersebut menjelaskan bahwa Jawa Barat selama ini menjadi provinsi dengan kontribusi terbesar terhadap sektor industri nasional. Karena itu, setiap gejolak ekonomi global yang berdampak pada nilai tukar rupiah akan turut memengaruhi aktivitas produksi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja di daerah.
Menurutnya, apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, perusahaan akan menghadapi kenaikan biaya operasional yang dapat mengurangi margin usaha. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut berpotensi memengaruhi ekspansi bisnis bahkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan tenaga kerja.
“Kita harus mewaspadai dampaknya terhadap lapangan pekerjaan. Jangan sampai tekanan biaya produksi yang terus meningkat membuat perusahaan mengurangi kapasitas produksi atau melakukan efisiensi yang berujung pada pengurangan tenaga kerja,” katanya.
Haji Fikri menilai sektor tekstil dan produk tekstil yang banyak beroperasi di wilayah Bandung Raya, Kabupaten Bogor, Purwakarta, Subang, Karawang hingga Bekasi menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah. Begitu pula industri farmasi dan elektronik yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Selain berdampak pada dunia industri, pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat Jawa Barat melalui kenaikan harga sejumlah barang yang memiliki kandungan impor cukup tinggi.
“Ketika biaya produksi naik, maka harga barang di tingkat konsumen juga berpotensi meningkat. Ini tentu akan berdampak terhadap daya beli masyarakat dan dapat memperlambat perputaran ekonomi daerah,” jelasnya.
Legislator asal Daerah Pemilihan Kabupaten Bogor tersebut mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan hilirisasi industri, meningkatkan penggunaan bahan baku lokal, serta mempercepat pengembangan industri substitusi impor guna mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Menurutnya, Jawa Barat memiliki potensi besar untuk memperkuat rantai pasok industri dalam negeri melalui pengembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri pengolahan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Semakin besar penggunaan komponen dan bahan baku dalam negeri, maka ketahanan industri kita terhadap gejolak nilai tukar akan semakin kuat. Ini harus menjadi agenda bersama agar industri Jawa Barat lebih mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.
Mantan Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Bogor itu juga meminta pemerintah untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif di Jawa Barat mengingat provinsi ini masih menjadi tujuan utama investasi nasional.
“Jawa Barat merupakan salah satu motor ekonomi Indonesia. Karena itu diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menghadapi tantangan ekonomi global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah tetap kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Haji Fikri berharap momentum ini dapat menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah melalui peningkatan produktivitas industri, penguatan UMKM, serta perluasan penggunaan produk dalam negeri.
“Kita harus menjadikan tantangan ini sebagai peluang untuk membangun kemandirian ekonomi. Industri yang kuat, investasi yang sehat, dan lapangan kerja yang terjaga akan menjadi kunci bagi kemajuan Jawa Barat di masa depan,” pungkas Haji Fikri.***(Wfa)


















